Di Jalan Gajah Mada Medan, Sejenak Bersama PSK Asal Aceh




ilustrasi prostituteAceh Selatan News | Medan – Keberadaan wanita kupu-kupu malam, atau lebih dikenal sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK), bukan lagi sebatas fenomena sosial di Kota Medan, tapi lebih dari itu. Umumnya sudah menyangkut persoalan isi perut atau ekonomi. Lokasinya pun sudah menjamur di kota ini, bahkan salah satu tempatnya sudah menjadi lokasi legendaris para pekerja pemuas nafsu yang datang dari berbagai daerah.

Selasa malam (27/8/2013), Tim The Globe Journal menelusuri beberapa lokasi prostitusi di kota Medan, Sumatera Utara. Berangkat menggunakan kendaraan roda empat dari salah satu penginapan di jalan Gatot Subroto, The Globe Journal menuju Nibung Raya, sebelum tiba di Nibung Raya sekitar pukul 22.15 WIB di kawasan Petisah juga terdapat banyak salon, spa dan karaoke- dalam praktiknya, sebagian di antara salon-salon itu juga menyediakan spa dan tempat karaoke yang menyediakan jasa pemuas nafsu-.

Tiba di Nibung Raya,   banyak penjual jamu dengan gerobaknya  disini. Para penikmatnya pun tidak sedikit, mereka terlihat masih berusia remaja. Seberang jalan dari lokasi jamu tersebut, terlihat banyak kendaraan yang terparkir rapi didepan ruko yang bernama Hotel Sibayak. Mereka pun terlihat datang silih berganti, tak pernah sepi.

Salah seorang teman yang tinggal di Kota Medan ikut dalam mobil The Globe Journal kendarai, dirinya mengatakan didalam ruko tiga pintu tersebut terdapat banyak PSK di dalam puluhan kamarnya. Kami berhenti, memarkirkan kendaraan diseberang jalan. Dilantai dasar hanya terlihat seperti warkop yang menyediakan minuman, namun bagi warga Medan lokasi ini tidak asing lagi bagi mereka untuk menikmati selangkangan wanita penghibur.

Sebelum naik ke lantai berikutnya, terlihat tiga pemuda bertato dilengan  duduk diatas meja di bawah tangga. Setiap orang yang ingin naik ke lantai atas  mereka meminta biaya 5 Ribu Rupiah. Walau merupakan sarang dari bisnis esek-esek, lokasi ini cukup jorok dan bau tak sedap menyeruak menghantam lubang hidung. walau demikian bukan berarti pengunjung keder. Para pemburu “luabng maut” cukup banyak bertandang kesini.

Menurut sumber yang layak dipercaya, tarif “engkol” dengan PSK disini bervariasi. Mulai Rp 35 ribu, 50 ribu dan seterusnya. tergantung bibit, bebet, bobot dan durasi kerja. Biasanya yang murah meriah adalah “pemuas nafsu arus bawah” yang sudah berusia bangkot.

Amatan The Globe Journal. Dilantai 2 dan lantai 3 terdapat banyak kamar. Pintu kamar yang belum punya pelanggan nampak terbuka. Didalamnya nampak “penjual bika ambon” duduk menunggu pria hidung belang. Bila ada yang lewat, mereka akan selalu memanggil dengan gaya menggoda dan menyebutkan tarif.

 “Bang, masuk bang! 50ribu aja bang,” Ajak salah seorang PSK yang menggunakan baju merah.

Tim The Globe Journal berusaha untuk dapat mewawancarai salah satu diantara puluhan PSK tersebut, namun pada awalnya kami tidak berani. Rasa takut dan tidak nyaman berada di lokasi pelacuran bercampur menjadi satu. namun karena ingin tahu lebih dalam, keberanian haruslah muncul.

Simsalabim, siap tawar menawar, salah seorang PSK, sebut saja namanya Melati (25) (nama samaran, red) langsung melayani The Globe Journal bicara. waktunya pun short time, Rp 50 ribu TGJ keluarkan untuk wawancara 15 menit.

Melati, dengan ciri khas Bataknya saat berbicara mengakui baru empat bulan menjadi penghuni Hotel Sibayak di Nibung Raya. Sebelumnya Melati mangkal di daerah taman Gajah Mada -di daerah ini juga  masih terdapat banyak PSK dipinggiran jalan-. Kepada The Globe Journal, Melati mengaku bisa melayani hingga 10 tamu dengan jumlah penghasilannya semalam senilai 500 ribu.

“Tergantung juga bang, kalau lagi gak enak badan gak sanggup layani rame-rame. Kalau lagi fit seperti ini bisa 10 tamu semalam bang,” ungkap Melati sambil menghisap cerutu yang dimintainya kepada kami.

***
Setelah mewawancarai Melati, Tim The Globe Journal menuju kawasan Gajah Mada, dimana lokasi tersebut juga kerap dijadikan tempat prostitusi setiap malamnya. Disini terpampang nyata para pekerja pemuas nafsu berdiri dipinggiran jalan, menggunakan pakaian yang membuat para pria hidung belang tertarik untuk mengajaknya kencan diranjang.

Kami memarkirkan mobil disebelah kanan taman Gajah Mada, terlihat seorang gadis cantik didepan kami berdiri diatas trotoar pinggiran jalan menggunakan baju seksi berwarna biru. Tanpa dipanggil gadis tersebut langsung menghampiri kami. “Ayok mas, 200 ribu sudah sama hotel,” ajak gadis cantik ini yang mengaku berasal dari Pekanbaru.

Merasa kurang tertarik untuk kami wawancarai, kami pun pindah lokasi. Memarkirkan mobil didepan Indomaret (masih di kawasan gajah mada, red) terlihat diseberang jalan ada seorang cewek dengan kulit hitam manis menebar senyum kearah kami, dia menghampiri seraya menanyakan, “Hoe nyan bang,” tanyanya seolah dia sudah mengenali kami.

Tanpa menunggu waktu yang lama, kami pun turut menghampirinya, lalu mengajaknya minum dengan niat bisa mendapatkan informasi terkait praktek prostitusi di kota Medan.

Sebut saja namanya Bunga, ia mengaku berasal dari Kota Juang, Bireuen. Bunga yang sudah berumur 26 tahun merantau ke kota Medan sejak usia 17 tahun dan sudah berprofesi sebagai “wanita penghibur” sebelum merantau ke kota Medan. Di tengah kecaman terhadap profesi PSK, bagi Bunga yang melakoni pekerjaan ini justru menganggap sebagai tujuan mulia, untuk menghidupi adik-adiknya di Aceh sana yang sekarang hidup kekurangan.

“Anda dan orang-orang mungkin menganggap pekerjaan saya hina dan dianggap sebagai sampahnya masyarakat. Tapi sebenarnya kami mencari rezeki dan berupaya membahagiakan orang. Lagipula, bukan kehendak saya untuk melakoni profesi durjana ini,” ungkap Bunga.

Dia juga mengatakan melainkan tuntutan ekonomilah yang memaksa dirinya hingga akhirnya seperti ini. Kendati demikian, dirinya juga mengakui, tidak mungkin akan terus-terus bekerja sebagai PSK.
“saya juga ingin punya keluarga yang utuh, punya suami dan ingin membahagiakannya,” Terangnya.

Gadis asal Bireuen ini mengaku baru seminggu kembali ke Medan pasca bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, sebelumnya hampir 2 bulan dirinya berada di Bireuen bersama orangtuanya.

“Baru aja seminggu balik kemari bang, kemarin itu di Bireuen. Bang, gak enak kali ya bang jadi seperti kami ini,” keluhnya diakhir pembicaraan sambil meneguk susu dingin pesanannya.

Kemudian ia pamit, mencari mangsa untuk mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang telah lama ia lakoni ini. “Terima kasih ya bang minumnya,” pamit Bunga kepada Wartawan (The Globe Journal)

Foto : google

Komentar










Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*