Garam Langka di Aceh Selatan, Ini Penjelasannya

Kabid Perdagangan pada Disperindagkop dan UKM Aceh Selatan, Syaiful Rahman, SE
Kabid Perdagangan pada Disperindagkop dan UKM Aceh Selatan, Syaiful Rahman, SE

Aceh Selatan News | Tapaktuan – Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menegngah (Disdagperinkop dan UKM) kabupaten Aceh Selatan menjelaskan kelangkaan garam yang terjadi di Aceh Selatan disebabkan tidak masuknya stok garam dari Medan, Sumatera Utara ke Aceh Selatan.

“Saya sudah coba koordinasi dengan Toko Deli baru distributor garam di Medan. Berdasarkan penjelasan pihak toko stok garam memang sedang kosong karena Pabrik garam belum buka pasca lebaran sehingga tidak dilakukan pengepakan garam,” terang Kabid Perdagangan Disdagperinkop dan UKM, Saiful Rahman SE kepada Aceh Selatan News, Senin (10/7/2017) di Tapaktuan.

Dia melanjutkan sumber lainnya menyebutkan kalau sejumlah lokasi pembuatan garam mengalami gagal panen saat produksi.

“Ada satu sumber lain mengatakan gagal panen saat produksi,” tambahnya.

Menurut Saiful garam yang beredar di masyarakat saat ini merupakan stok lama. Kelangkaan barang kebutuhan sehari-hari ini juga menyebabkan harganya di pasaran molonjak tinggi.

“Jadi garam yang beredar saat ini adalah stok lama. Dengan harga lebih tinggi. Harganya bisa dua kali lipat dari harga normal,” ujar Saiful.

Sejumlah pedagang yang dihubungi pihak dinas mengaku modal mereka membeli garam naik hingga 2 kali lipat sehingga pedagang harus menjual garam dengan harga tinggi.

“Biasanya 1 pack berisi 10 pack kecil dihargai Rp. 10.000 saat ini naik hingga Rp. 15.000 sampai Rp. 20.000 sehingga harga garam di pasaran berkisar Rp. 2.000 sampai Rp. 2.500 per pack kecil melambung dari harga normal Rp. 1.000 per pack,” beber Saiful Rahman usai menghubungi sejumlah pedagang di Kecamatan Kluet Raya dan Trumon.(Jn)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*