Ide Ku: Buatlah Dulu Apa Yang Bisa Kita Perbuat

Aceh Selatan adalah tempat leluhurku, aku merasa bangga menjadi anak Aceh Selatan. Selama ini aku tak pernah berpikir untuk malu menjadi anak Aceh, bahkan aku bangga menyebut “Aceh” pada siapa pun saat aku memperkenalkan diri.

Kalau aku katakan “Aku mencintai Aceh” mereka juga mencintainya. Berarti perasaan ku tidak ada bedanya dengan perasaan mereka yang tumbuh di Aceh. Jika ku katakan aku merinduinya, mereka juga merantau. Jadi sangat sulit menemukan kenapa dikala tidurku sering ku sebut “Aceh”. Seperti mana ku dengar pada orang-orang yang terjaga ketika aku pulas.

Karena tak ingin membuang waktu. Aku tak mau mencari jawaban dari sebuah pertanyaan yang sulit, tapi aku buka halaman lain yang lebih gampang sehingga aku tak nampak kusut sekalipun sedang memikir sesuatu yang payah dan membebankan.

Matahari keluar terlalu lambat di musim salju, ditambah dengan keadaan yang kedinginan atau sering disebut dengan ”minus” tatkala itu di luar rumah ku. Membuat tubuh tak selera membawa diri pada weekend itu. Aku pikir biarlah di rumah hari ini, sekalipun aku tak piknik, minimal aku sudah bisa simpan uang jatah minyak mobil yang wajib ku isi jika aku keluar.

Pikiran kubiarkan saja menghayal, kalau aku pulang nanti ke tanah di mana leluhurku di lahirkan dan juga aku. Tentu aku bisa buat sesuatu untuk mengisi tanah itu, jika aku punya uang. Aku bisa mengajak bangsaku bekerja menghidupkan lahan-lahan kosong (lampoeh soeh-red Bahasa Aceh), sehingga tanah yang ditinggal leluhurku jadi hijau, indah, dan menghasilkan uang yang kemudian akan membuat anak-anak selalu ceria karena mereka bisa mendapat makanan yang sehat setiap hari.

Jika orang-orang memiliki pekerjaan, pengangguran sudah tiada, kemiskinan hanya tinggal nama, semuanya suka memberi dari pada hanya ingin menjadi sebagai penerima. Dan tentu sekali bangsaku akan sekolah tinggi-tinggi karena tidak pernah terhalang dana, dengan itu tanah leluhurku akan diurus dengan baik untuk kemudian beralih tangan buat anak cucunya.

Aku ingin sekali melihat ”Aceh Goet” (Aceh Bagus), agar semua orang bisa hidup mulia dan bahagia, tapi apa yang harus kulakukan?

Oke, kita memiliki tanah yang luas serta subur, ini adalah anugerah tuhan yang harus segera kita manfaatkan. Kita bersihkan, kita buat pagar, kita jadikan lahan pertanian dan peternakan dan pertanian serta pariwisata. Tapi aku dengar teman-teman bilang, di Aceh susah sekali menjual hasil panen, harganya terlalu murah, tak sesuai dengan modal dan tenaga yang kita pergunakan untuk bekerja. Jadi bagaimana, jika aku juga harus menerima nasib yang sama nantinya, Oke, begini, kalau tanam sesuatu harus luas (banyak), jadi sekalipun untung sedikit tapi karena ia banyak, maka untungpun jadi banyak, apa lagi kalau pemerintah di tanah leluhurku mau mengeksport ke luar negeri, tentu ekonomi para petani-petani mengembirakan.

Ya, kalau petani ada uang, kedai-kedai akan laku apa saja yang dijual. Uang berputar cepat, semua orang akan menempati posisi masing-masing sesuai keinginan dan pendidikan serta pengalamannya.

Tapi kita tetap ada kendala, jalan-jalan ke areal lahan kosong (lampoeh soeh) tidak bagus, kalau musim hujan langsung tak boleh mudik. Bagaimana ini, alah… jangan selalu memikirkan yang besar. Apa lagi setelah dipikirkan tak juga bisa dibuat, sebab aku tak ada uang untuk buat jalan. Begini, lampoeh soeh (lahan kosong) terus diisi dengan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan pariwisata, pastilah pemerintah tak mau tinggal diam nantinya. Apa lagi dilihat setiap hari berbari (meureunue) orang pingkul (gulam) hasil panen untuk menjualnya. Benar, jadi sekarang buat dulu apa yang kamu boleh buat, dan mereka akan buat apa yang bisa mereka buat.

Sepakat, pikiranku terus terpancing dengan situasi dimana Negara yang aku diami sekarang, di negera ini, 6 bulan tak bisa ditanam apa-apa sehingga musim salju pergi dan musim semi mulai tiba. Tapi, mereka bisa bagi mengurus rakyatnya sampai ke pampers anak-anak (di beri uang 3 bulan sekali). Kenapa, di tanah leluhurku yang tidak ada salju, tanaman tak banyak, tapi justru hidup tak mencukupi. Ah, ini pasti karena kita tidak memanfaatkan apa yang dimiliki Aceh dengan baik. Di tambah dengan sikap kepedulian pemerintah yang tidak sungguh-sungguh untuk melawan kemiskinan dan pengangguran.

Aku lipat jemariku, kuhitung berapa lama sudah Aceh disebut dibawah Indonesia (menerima uang dari pusat) kata mereka. Tapi, kemana uang itu sehingga jalan untuk petani mencari rezeki tak siap. Alah, malasku pikirkan, biarlah uang itu dipakai siapa saja yang penting sekali, aku harus buat apa saja yang aku bisa untuk tanah leluhurku, jika aku tak henti-henti berbuat suatu hari “Imajinasi ku” pasti terwujud.

Zulfiana Wahdi
adalah Inisiator Aceh Selatan Goet (ASG)

Komentar