Menalar Calon Pemimpin Impian Aceh




Oleh : Thahyyatul Sofida S.TH,

12510254_1229663073728563_6403829556623669836_nBercita-cita atau berangan-angan tentunya dimiliki oleh setiap manusia. Penulis, anda, dan mereka siapapun mempunyai hak secara personal dalam merajut mimpi termasuk menjadi Pemimpin, mulai dari lini keplor( kepala lorong) sampai menjadi Presiden sekalipun. Tidaklah penulis mengajak pembaca bermimpi mencari pimpinan Nusantara, tetapi cukuplah di Daerah Ujung Khatulistiwa ini.

Pemilihan pemimpin Aceh secara langsung sudah sangat dekat, meski masih tahun depan. Tetapi bagi calon Pemimpin waktu tersebut agaknya terasa amat singkat. Dalam beberapa minggu terakhir, seantero Aceh sedah ramai membicarakan dan mengkampanyekan calon pemimpin Aceh 4 tahun kedepan. Baik melalui media cetak, media online, atau jejaring sosial lainnya, yang kerap kali menjadi ajang pertukaran pendapat mengaktualkan calon pilihannya masing-masing.

Seumpama membeli ikan,sayur dan kelengkapan rumah tangga lainnya tentu saja pembeli berbeda-beda selera, namun tujuannya sama yaitu untuk menjadi santapan dimeja makan keluarga. Namun, sudut pandang berbelanja atau belanjaan yang dapat di bawa pulang untuk keluarga harus dipilih dan dipilah dengan seksama. Sehingga, layak untuk dikonsumsi dan memiliki kandungan gizi yang mencukupi. Adakala calon Pemimpin memiliki cukup modal dan bagus tampilan luarnya saja, ada calon pemimpin yang terbilang mempuni tapi kurang modalnya dan ada pula calon pemimpin yang punya banyak pendukung tetapi kurang modal dan tampilannya. Begitulah esensi memilih kandidat Pemimpin dalam bursa Menuju Aceh satu di februari 2017 mendatang.

Dinamika munculnya calon kandidat ibarat penjual visi dan misi, Pilkada adalah pasar, dan Rakyat adalah Pembeli serta uang laksana suara. Baik kandidat ataupun Rakyat tentu saja harus pandai-pandai menyuguhkan dan menawar di Pasar tersebut, sehingga uang “suara” yang telah dipersiapkan  tadi tidak disesali kemudian hari, apalagi dengan segudang program kerja atau merek yang disuguhkan dipasar memiliki banyak variannya sehingga menjadi dilema sasaran tepat yang harus diambil. Ilustrasi yang penulis sampaikan diatas memang sangat kentara di masyarakat, apapun latar belakang pembeli “ pemilih”nya.

Cara memilih pemimpi secara umum memang tidak kita dapatkan secara konkret dari pendidikan dasar hingga di bangku perkuliahan, tetapi setiap kita tentunya memiliki hati yang dapat menjadi penyaring dalam memilih. Sebab dikalangan filosof hati adalah mahkamah manusia yang tidak pernah berbohong. Disinilah kita kerap kali mengabaikan kata hati dalam memilih Pemimpin. Ketika telah kita abaikan, tidak sedikit calon pemimpin telah berupaya menyogok atau memberi hadiah atau janji manis politik saat kampanye berharap dapat mengelabui ‘akal’ untuk memilihnya tetapi hakikatnya bagaimanapun manusia tidak dapat “menyogok”hati manusia.(Kamaruzzaman Bustaman Ahmad, Aceh Baru Post Tsunami: Banda Aceh, kaukaba 2014)

Kendatipun tidak ada pelajaran memilih pemimpin dalam pendidikan formal, namun setidaknya kita sebagai rakyat yang memiliki hak Mutlak dalam menentukan kearah manakah Aceh ini kita Impikan, melalui perhelatan Pilkada kedepan atau yang sering didengungkan dewasa ini sebagai Pesta Demokrasi Rakyat. Meneruskan kutipan diatas tertuang ada tiga tipikal calon pemimpin, pertamaCalon pemimpin Klaim telah diamanatkan rakyat dan telah didukung, maka yang demikian adalah calon pemimpin yang belum dapat dikategorikan mampu memimpin rakyat, sebab dalam memimpin tidak boleh dengan nafsu. Dewasa ini telah banyak bermunculan seperti calon tersebut seakan ia datang seolah-olah dialah yang paling mampu mengatasi sekelumit permasaalahan dan mampu mewujudkan pembangunan Aceh sekarang ini. KeduaCalon Pemimpin mendatangi calon pemimpin lain untuk bersama-sama memimpin Aceh, maka ini pertanda kemunduran karena sejatinya pemimpin bukan melandasi dengan perkawanan.

Biasanya calon pemimpin seperti ini memanfaatkan atau mencari kawan yang berpengruh disuatu daerah untuk mendongkrak Suara dan perhatian pemilih dan menjadikan wakilnya. Hal ini dapat berindikasi hanya sebagai simbol belaka nantinya karena yang demikian diibaratkan korban ‘dikerjai’. Ketiga pemimpin yang diinginkan rakyat dan ia tidak ingin menjadi pemimpin. Pemimpin yang seperti ini memang jarang ditemukan karena ia tidak beranjak dari gedung atau rumah mewah. Biasnya pengalaman suksesnya sebagian pemimpin dunia itu berasal dari personal yang akrab di tengah masyarakat dan selalu membela kepentingan rakyat yang ia muncul kepermukaan dengan cara yang tak disangka-sangka sebelumnya. Disinilah kita dapat melihat lahirnya pemimpin yang bersih pikiran dan hatinya dalam pemimpin Aceh.

Menyambut perhelatan Demokrasi yang akan digelar tahun depan, masyarakat sejatinya telah mempersiapkan pandangan atau mempelajari Track Recoard calon kandidat yang mulai bermunculan dengan sangat seksama. Pilihan memang akan ditetapkan di TPS yang akan dituju nantinya untuk menitipkan mandat 4 tahun Aceh kepada mereka yang akan bertarung nantinya. Kehadiran calon-calon kandidat ini memang telah merasuk dan mengusik hati masyarakat, karena kemunculan tokoh-tokoh terbaik Aceh ada yang telah menyuarakan komitmen ingin menjadi calon secara sah kepada Komisi Independent Pemilihan. Sehingga, baik yang telah muncul atau yang akan menyusul masih belum bisa diprediksi, mengingat suhu Politik di Aceh kekinian sangat tegang. Namun, ada juga sekelompok masyarakat telah menentukan sikap sejak dini dengan membentuk kesatuan suka relawan yang akan di usung hampir diseluruh daerah. Terlepas dari perspektif kepentingan atau keinginan nurani yang telah haus menanti pemimpin  Arif dan bijaksana. Berangkat dari generasi muda hingga tetua semua menjadi Tim bagi masing-masing pilihannya.

Kiranya sejarah telah terpatri atau sebagian telah tercatat, bahwa Aceh telah memiliki dua Pimpinan Pasca Tsunami dan Perdamaian. Harapan rakyat dapat merasakan keadilan dan kesejahteraan disemua golongan berjalan baik dan seluruh butiran hasil perdamaian dapat terealisasikan, tidak hanya selogan dan membuat Masyarakat/rakyat memandang Elit politik Aceh baik yang telah menjabat atau yang akan segera menjabat nanti hanya di-PHP-in ( korban Harapan Palsu). Mengapa demikian?, karena menurut awam penulis yang masih amat minim ilmu perpolitikan, merasakan kepiluan tersendiri yang barangkali juga dirasakan masyarakat, terhadap kebijakan dan program pemerintah selama ini belum  menyentuh menyeluruh langsung diraksakan, baik secara personal maupun kemaslahatan umum karena begitu melimpahnya APBA plus Otsus di tanoh Rencong ini. ditambah lagi suguhan perpolitikan lokal yang berasal dari eks pegiat perjuangan dan pengambil keputusan damai kerap kali berseteru, terkesan telah melupakan kepentingan Aceh secara bersama, satu visi dan misi memajukan Aceh. Padahal falsafah hudep saree matee sajan, shion kafan saboh kerenda yang dulu di dengung-dengungkan sejatinya dapat di implementasikan di era Demokrasi Aceh yang mendapat hak Istimewa dengan kehadiran Parlok (Partai Lokal).

Pandangan penulis juga bukan tidak beralasan, sebab beberapa permasalah kesenjangan kesejahteraan yang didengungkan selama ini bahkan dalam amanat MOU Helsinkipun belum maksimal dikerjakan, sehingga sebagian rakyat memilih diam, adapula yang melawan dengan bermacam motif ditujukan kepada Elit Aceh Pasca Perdamaian. Diantaranya, Fenomena DIN MINIMI, Abu Fulan, Abu fulen, Abu dapur apapun nama kelompok dan Gemuruhnya masyarakat ALABAS berevolusi meretas Pemekaran, meski masalah ini dapat mengurai bermacam Asumsi tujuannya, akan tetapi hemat penulis tidak sedikit karena peran pemerintah tidak dirasakan hadir dalam segala Pogram-progam yang berdasarkan kepentingan rakyat sebagai embun penyejuk, yang amat menggelitik lagi kehadiran Wali Nanggroe terkesan tidak mampu menjadi penengah, entah karena Eksistensinya juga masih Abu-abu antara pemelihara Adat atau meliputi segala Aspek Kehidupan di Aceh.

Memimpikan Pemimpin Impian Aceh memang membutuhkan kesabaran dan ketajaman nalar atas penentuan masa depan kesejahteraan. Disini yang amat berkuasa adalah Rakyat, rakyatlah pada akhirnya sebagai juru kuncimenilai siapa calon pemimpin yang mampu menyerap Aspirasi rakyatban sigom Aceh. Nah, kepada tokoh-tokoh perjuangan dan perdamaian tanpa terkecuali yang selalu mendengungkan Demi Rakyat, dan mengatasnamakan  kesejahteraan rakyat, Akademisi, Birokrat, diharapkan mampu membangun kebersamaan meski gaya dan pandangan telah berbeda-beda dalam merencanakan Aceh ini hendak dikemanakan. Karena  ACEH bukan miliki golongan tertentu, baik partai sekalipun. Maka, jika kebersamaan ini dapat dibangun Demi Aceh dengan cara meninggalkan Keambisian Personal penulis merasa keadilan menyeluruh mampu direalisasikan, sehingga tidak ada lagi Rakyat yang terzalimi dan tidak adalagi perlawanan sesama bangsa Sendiri. Pada kesempatan ini pula penulis juga berpesan sesiapun nanti terpilih maka amanat MOU dapat dirasakan oleh rakyat Aceh, eks kombatan, janda, yatim dan korban konflik perjuangan. Ingat ACEH bukan milik tokoh Personal tetapi Milik RAKYAT, jangan sesekali menyakiti Hati Rakyat, karena Suara hati rakyat tidak pernah lepas dari suara Tuhan, dan Suara tuhan hanya dibagikan kepada calon pemimpin yang maju dengan Mata hati. Mari bersama-sama mewujudkan Reformasi Aceh kearah pembangunan yang lebih baik, saling asih, asuh, kasih dan sayang, sehingga cita-cita Syuhada konflik dan Tsunami terlaksana. Saat nya Rakyat menentukan  pemimpin Impian.

Penulisialah mahasiswa semester Akhir Pada Jurusan Hukum Islam Program Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry.

Komentar










Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*