Nyak Mutia dan Sawahnya yang awut – awutan akibat banjir

Nyak Mutia saat memanen padinya sisa banjir
Nyak Mutia saat memanen padinya sisa banjir
Nyak Mutia saat memanen padinya sisa banjir

Aceh Selatan News | KLUET UTARA – Terik matahari yang sangat menyengat tidak membuat kami patah semangat untuk melaju dijalan setapak yang  tampak hancur. Laju kenderaan kami sedikit lamban karna jalan yang kami lalui tidak rata dan bergelombong akibat  tanah yang  tergerus banjir beberapa waktu lalu. Dikejauhan tampak oleh mata kami sebuah gubuk tua berdiri diantara batang padi yang membusuk mati akibat terendam banjir. Gubuk yang mulai tampak lusuh dengan atap rumbia yang semakin kusut, sesekali tertiup angin yang berhembus. Dengan langkah pasti kami mendekati gubuk tersebut yang didalamnya terdapat dua orang yang  tampak sedang beristirahat. Assalamualiakum,sapa kami ramah. Wa’alaikumsalam…terdengar jawaban ramah dari dalam gubuk tersebut. Kemudian kami dipersilakan duduk seraya kami memperkenalkan diri.

Adalah Nyak Mutia, salah satu warga Simpang Empat Kecamata Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan, yang terkena musibah banjir  yang terjadi pada sabtu 11 Mei lalu. Pembicaraan kami bermula dari kisah sebelum banjir yang terjadi hari itu, dengan tatapan kosong sembari menatap sawahnya yang terlihat awut-awutan, Nyak Mutia mulai menuturkan pembicaraannya. “malam nyan cit hana mangat hate Ulon,kutakot di teuka ie raya karna ujeun hana dipiyoh-piyoh lam padup uroe nyoe,sayang  that pade lon yang kaleuh teukoh menyoe beutoi di teuka ie raya.(“malam itu saya sangat merasa was-was, saya takut akan ada banjir yang datang karena hujan yang  terus-menerus dan tidak berhenti. Sayang sekali padi saya yang baru dipotong” (belum sempat dikumpulkan”) seandainya itu benar-benar terjadi”).

Kemudian Nyak Mutia terus melanjutkan pembicaraannya, “Rupa jih beutoi lagee keunira lon, habeh mandum pade lon dime le ie raya. Hom keuh,nyoe yang tinggai nyoe keuh nyoe rezeki yang geujok le Allah”(“Rupanya memang benar seperti apa yang saya pikirkan, habis semuanya padi saya terbawa arus banjir.  Hanya inilah yang tinggal sedikit, berarti ini lah yang menjadi rezeki saya yang diberikan Allah”). Nyak Mutia juga sempat berpesan kepada kami, “Tulong lah kamoe neuk, karena kamoe nyoe hana meuteume bantuan lom”(“Tolonglah kami ini Nak, karena kami ini belum menerima bantuan”). Tutur Nyak Mutia. Sesekali wajahnya tampak sedih mengingat kejadian itu, namun dalam kesedihan itu Nyak Mutia masih tetap tegar dan menganggap itu adalah ujian yang diberikan Allah kepada hambannya.

Hari telah menunjukkan pukul 14.15 WIB, Nyak Mutia kemudian kembali bergegas untuk memotong sisa-sisa padinya yang hanya tinggal sedikit akibat banjir hari itu. “Beuh ka keuh aneuk, Wa meujak koh pade nyan bacut teuk yang ditinggai le ie, na meuteume bacut kajeut”(“Sudah dulu ya nak, Saya mau memotong padi lagi yang sisa dari banjir, dapat sedikit saja sudah syukur”)

Tidak lupa kami pamit dan berterima kasih kepadanya. Kemudian kami berlalu meninggalkan gubuk tua itu dengan membawa seuntai cerita, berharap akan ada yang mendengar dan membantu Nyak Mutia dan “Nyak Mutia-Nyak Mutia” Lainnya yang menjadi korban dalam musibah waktu itu.(Oleh Lovi – Minggu, 19 Mei 2013)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*