Pembangunan Jembatan Teupin Tinggi Bagaikan Proyek Siluman

Aceh Selatan News | Tapaktuan – Realisasi sejumlah proyek Provinsi Aceh di Kabupaten Aceh Selatan, dikerjakan tanpa plang nama, sehingga terkesan bagaikan proyek siluman.

“Misalnya saja, pembangunan jembatan di Gampong Teupin Tinggi, Kecamatan Trumon dilintasan  Keude Trumon – Bulohseuma dikerjakan oleh rekanan tanpa plang nama,” kata Koordinator LSM Libas, Mayfendri, SE kepada Aceh Selatan News di Tapaktuan, Selasa (22/8/2017).

Ia melanjutkan, berdasarkan keterangan  dari sumber di LPSE Provinsi Aceh 2017, pembangunan jembatan Teupin Tinggi bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus) dikerjakan oleh CV Puri Natasya dengan pagu anggaran Rp.2.307.538.000.

“Itu salah satu dari sekian  banyak  proyek dari sumber anggaran Provinsi Aceh yang di kerjakan di daerah ini tanpa plang nama, sehingga menjadi tanda tanya masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, ia mengapresiasi  meningkatnya realisasi proyek fisik sumber dana dari Provinsi Aceh di Aceh Selatan. Tetapi tidak diimbangi tranparansi oleh pelaksana proyek di lapangan.

“Masyarakat di kecamatan tidak tahu apa  yang dikerjakan itu dan siapa pelaksana,  berapa anggarannya, serta  sumber dananya  dari mana. Maka disinilah terjadinya pembohongan pablik akibat ulah  kontraktor yang tidak  transparan terhadap proyek yang dikerjakannya itu,” tuturnya.

Menurutnya, pihak rekanan sengaja tidak memasang papan proyek karena disinyalir proyek tersebut di kerjakan asal jadi dan tidak sesuai rancangan anggaran belanja (RAB).

“Menurut pantauan kami, bahwa proyek bangunan jembatan yang dibangun di Teupin Tinggi lintasan Keude Trumon menuju ke Bulohseuma itu memang disengaja untuk mengelabui masyarakat yang tidak tahu  menahu terhadap pekerjaan tersebut,” ungkapnya.

Mayfendri menambahkan, disaat ia  melintas di kawasan proyek itu, ternyata benar, bahwa proyek pembangunan jembatan tersebut bagaikan proyek siluman, karena tidak terlihatnya plang nama di lokasi proyek.

“Rekanan  jangan menganggap seakan-akan Aceh Selatan ini tidak ada penghuni dan tidak ada lembaga yang mau mengkritik sehingga mereka leluasa bekerja tanpa aturan yang berlaku,” imbuhnya.

Sementara, pengawas proyek jembatan Teupin Tinggi,  Mairul  menjelaskan  bahwa plank proyek sudah ada, tetapi ada kekeliruan saat di cetak.

“Papan nama sudah ada, tetapi salah cetak, dan kita sudah pesan di Banda Aceh, kalau sudah sampai, nanti kami pasang,” sebutnya. (Ran).

Komentar