Penangkapan tersangka penembakan caleg PNA dinilai cacat hukum

8 tersangka penembak kader PNA ditangkap
8 tersangka penembak kader PNA ditangkap
8 tersangka penembak kader PNA ditangkap

Aceh Selatan News | Banda Aceh –┬áNurlaila, istri pimpinan pesantren Almujahadah, Tgk Barmawi yang diduga menjadi aktor penembak Caleg Partai Nasional Aceh (PNA) mengaku ada banyak kejanggalan saat dilakukan penangkapan kepadanya suaminya. Penangkapan tersebut terjadi pada hari Sabtu (17/5) sekitar pukul 10.00 WIB.

Kejanggalannya menurut Nurlaila (30), pertama penangkapan suaminya tidak disertai dengan surat perintah. Surat perintah baru diserahkan oleh pihak kepolisian setelah 2,5 jam terjadi penangkapan yang diantar oleh polisi yang berpakaian bebas.

Selain itu, hal yang membuat Nurlaila tidak bisa terima, saat dilakukan penggeledahan oleh 20 personel polisi di rumah Tgk Barmawi yang berada di komplek pesantren Almujahadah. Awalnya polisi tidak menemukan apapun dalam kamarnya.

“Penggeledahan pertama dan kedua, polisi tidak menemukan apapun di kamar kami,” kata Nurlaila dalam konferensi pers yang difasilitasi oleh kuasa hukum Tgk Barmawi di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Selasa (20/5).

Kemudian, katanya, hal yang membuat dia kaget saat polisi kembali menggeledah dan masuk ke dalam kamarnya yang ketiga kali. Secara tiba-tiba polisi yang menggeledah kamarnya itu menemukan satu peluru dalam laci. Bahkan, Nurlaila sempat bertanya pada seorang polisi, akan tetapi polisi tersebut tidak memberikan keterangan apapun.

“Selain tempat saya simpan uang jajan anak-anak, itu juga tempat saya menyimpan obat-obatan, jadi kok bisa ada peluru satu butir, padahal setiap hari saya buka laci itu tidak ada peluru,” tegasnya.

Oleh karena itu, Nurlaila sendiri tidak yakin suaminya terlibat dalam kasus tersebut. Karena keseharian suaminya tidak pernah menceritakan terkait ada rencana tersebut dan tidak pernah ada berpesan apapun pada dirinya.

“Saya sendiri tidak yakin dan beliau tidak pernah ceritakan apapun pada saya, dan harapan saya bisa bertemu dengan suami saya, makanya saya datang ke LBH Banda Aceh untuk meminta perlindungan,” jelasnya.

Sementara itu, ketua tim kuasa hukum Tgk Barmawi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Mustiqal Syah Putra, SH mengatakan, penangkapan pimpinan pesantren Almujahadah itu pihak kepolisian telah melakukan inprosedural. Harusnya, pihak kepolisian sebelum menangkap dan menggeledah tersangka harus menunjukkan surat penangkapan di depan, bukan belakangan.

“Harusnya surat penangkapan itu diserahkan di depan, bukan setelah penangkapan,” jelasnya.

Selain itu, katanya, surat yang diserahkan oleh pihak kepolisian itu bukan surat penangkapan. Akan tetapi hanya surat penggeledahan badan/pakaian tersangka. Artinya daam surat itu tidak ada perintah untuk menggeledah rumah.

“Penggeladahan rumah itu tidak bisa dilakukan sembarangan, harus ada surat perintah dari pengadilan setempat, baru polisi boleh melakukan penggeledahan, makanya kita sebut polisi ada melakukan inprosedural dalam penangkapan Tgk Barmawi,” tutupnya.(mdk)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*