Penembakan Caleg PNA Aceh Selatan karena Dendam




PENEMBAKAN CALEG: Kapolda Aceh, Irjen Husein Hamidi, saat memberikan keterangan dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Banda Aceh, Senin (19/5), terkait penangkapan para tersangka pelaku penembakan caleg PNA Aceh Selatan. Berdasarkan pemeriksaan sementara, penembakan ini berlatar belakang dendam pribadi para tersangka.(Foto :Anl)
 PENEMBAKAN CALEG: Kapolda Aceh, Irjen Husein Hamidi, saat memberikan keterangan dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Banda Aceh, Senin (19/5), terkait penangkapan para tersangka pelaku penembakan caleg PNA Aceh Selatan. Berdasarkan pemeriksaan sementara, penembakan ini berlatar belakang dendam pribadi para tersangka.(Foto :Anl)
PENEMBAKAN CALEG: Kapolda Aceh, Irjen Husein Hamidi, saat memberikan keterangan dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Banda Aceh, Senin (19/5), terkait penangkapan para tersangka pelaku penembakan caleg PNA Aceh Selatan. Berdasarkan pemeriksaan sementara, penembakan ini berlatar belakang dendam pribadi para tersangka.(Foto :Anl)

Aceh Selatan News | Banda Aceh – Penembakan atas calon anggota legislatif (Caleg) Partai Nasional Aceh (PNA) Aceh Selatan, Faisal SE, 2 Maret 2014, bukan bermotif politik. Kesimpulan sementara, penembakan ini berlatar belakang dendam pribadi.

“Untuk sementara, berdasarkan hasil pemeriksaan, itu merupakan dendam pribadi karena korban yang memimpin demonstrasi atau penggrebekan dan membubarkan tempat pengajian Barmawi,” ujar Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi, dalam konferensi pers terkait kasus ini di Mapolda Aceh, Senin (19/5).

Sekadar mengingatkan, Faisal (40) tewas setelah diberondong dengan menggunakan senjata api laras panjang di wilayah Gunong Seumancong, Gampong (desa) Ladang Tuha, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan, Minggu (2/3). Korban diberondong dengan lebih dari 40 butir peluru.

Dalam konferensi pers itu, dihadirkan delapan tersangka pelaku penembakan dan sejumlah barang bukti.

Kapolda menyatakan, para tersangka penembakan adalah jemaah Pesantren Al-Mujahadah, Aceh Selatan, pimpinan Barmawi. “Semua tersangka adalah jemaah Barmawi,” katanya.

Kapolda memaparkan, korban bersama masyarakat di Aceh Selatan membubarkan pengajian Barmawi ini setelah terbitnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 28 Januari 2013 dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

Isi fatwa itu menyatakan, pemikiran atau pemahaman ajaran-ajaran Ahmad Barmawi yang merupakan pimpinan pesantren Al-Mujahadah, menyesatkan.

Kapolda merincikan, penangkapan delapan tersangka penembakan dilakukan oleh tim gabungan Bareskrim, Densus 88 Antiteror Mabes Polri, Dit Reskrimum Polda Aceh dan Polres Aceh Selatan.

Pelaku yang diringkus sejak Jumat (16/5) adalah Na (35), yang berada satu mobil bersama eksekutor dan membawa senjata cadangan jenis AK saat penembakan. Selanjutnya, Us (29), mahasiswa/santri, yang berperan sebagai pemantau dan mengikuti korban korban selama perjalanan dari Aceh Barat Daya (Abdya) menuju Sawang, dan Ri (35), penyimpan senjata pascapenembakan.

Anggota Polri

Tersangka lainnya yang diamankan adalah dua anggota Polri, yaitu Hus (35), anggota Yanma Polda Aceh, yang merupakan eksekutor dan Brigadir Al (27), yang ikut merencanakan penembakan itu.

“Kedua anggota Polri itu mengiktui pengajian tersebut,” kata Kapolda.

Berikutnya, MY (38), supir mobil Toyota Innova yang digunakan untuk saat melakukan penembakan, dan IS (22), pemantau perkembangan dan situasi di rumah korban setelah penembakan.

Terakhir, tersangka yang memerintahkan dan merencanakan penembakan terhadap korban, yaitu Ahmad Barmawi (44). Dia ditangkap pada Sabtu (17/5).

Semuanya ditangkap di lokasi dan dalam waktu yang berbeda-beda. “Semuanya masih dalam tahap pengembangan dan proses penyidikan,” kata Husein Hamidi.

Kapolda melanjutkan, barang bukti yang disita, yaitu dua pucuk senjata api laras panjang jenis AK-101 dan  sepucuk senjata api jenis AK-47. Selanjutnya, 93 butir peluru amunisi AK-47, 21 butir peluru amunisi AK kaliber 7,62 mm, 456 butir amunisi kaliber 5,56 mm.

Kemudian, dua magazen AK-47, satu magazen SS-1, dua rantang amunisi, dua buah rompi anti peluru, satu buah drahrim, dua buah sarung tangan, satu borgol, satu unit mobil Toyota Innova (milik pelaku) dan satu unit mobil Honda Freed (milik korban).

Dalam kasus ini, para tersangka dijerat pasal 340 KUHP dan Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang (UU) Darurat No 12/1951 juncto Pasal 55 juncto Pasal 56 tentang senjata api dan bahan peledak.

Menyangkut senjata yang digunakan pelaku, untuk saat ini polisi belum bisa memastikan dari mana diperoleh. “Ini akan kita kembangkan berikutnya karena ada informasi bahwa senjata itu dibeli. Tapi kita tunggu hasil perkembangannya,” ujar Husein Hamidi.

Namun, katanya, berdasarkan hasil pengembangan kasus, mulai terungkap adanya beberapa kejadian yang dilakukan oleh para tersangka, yaitu perampokan PT BRI Unit Meukek, Aceh Selatan, pada 10 Mei 103.

Selanjutnya, penembakan Posko PNA Abdya di Jalan Guhang Blangpidie, 15 Maret 2014, dan penistaan agama (aliran sesat), sesuai fatwa MPU Aceh. (anl) 

Komentar










Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*