Pengolahan Gerabah di Gunung Cut Masih Tradisional

Aceh Selatan News | Samadua – Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Rakyat di Gampong Gunung Cut, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, Irawati menyebutkan usaha pengolahan gerabah yang dirintisnya sejak turun temurun hingga kini masih dilakukan secara tradisional.

Hal itu ia utaraka kepada Ketua Tim Penilai dari Dekranasda Aceh, Drs. Nazir Abas saat melihat koleksi produk gerabah hasil karya kelompoknya, di Gampong Gunung Cut, Selasa (14/11/2017).

Selama ini cara menghaluskan tanah liat sebagai bahan baku gerabah agar menjadi seperti tepung, masih menggunakan kaki. Namun, sebagai pengrajin kegiatan tersebut harus senantiasa tetap dilakoni.

“Untuk mencipta suatu produk seperti pot bunga membutuhkan waktu, pertama kami siapkan dulu bagian bawah, kalau sudah kering baru kami lanjutkan kebagian atas,” ungkap Irawati

Setelah pot bunga terbentuk dan dikeringkan dengan cara pembakaran, lalu bagian luar dilapisi serpihan kerak telor lalu dioles dengan dompol.

“Kendalanya disaat mengolah tanah liyat bercampur pasir sehingga sulit dihaluskan. Kalau pengrajin di Jogja cara menghaluskan tanah berpasir memakai mesin yang langsung halus seperti tepung,” ujarnya.

Menjawab hal tersebut, Ketua Tim Penilai, Nazir Abas menanggapi dan memaklumi, namun pihaknya mengharapkan kepada pengrajin supaya menciptakan hasil produk tidak hanya satu jenis saja tetapi harus menciptakan beberapa model.

“Sehingga hasil karya kita dapat diterima dan dinikmati konsumen. Mengenai mesin pengolah tanah dan alat pembakaran, nanti akan di programkan,” jawabnya, seraya meminta kepada Kepala Disdagperinkop dan UKM Aceh Selatan, Mualimin, SE agar memprogramkannya.

Sementara, Kepala Disdagperinkop dan UKM Aceh Selatan, Mualimin menyatakan, siap untuk memprogramkan kebutuhan pengrajin gerabah dalam upaya meningkatkan hasil produk kerajinan dari tanah liat.

” Kita siap programkan pada tahun 2018 mendatang,” pungkasnya. (Ran).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*