Sekilas Sejarah Berjuang Merelokasi SD 8 Tapaktuan yang Hendak dihapus




Laporan Khusus: Darul Qutni Ch/Imran Samad

sd 8 3

Dulu saat saya berjuang mati-matian agar SD Negeri 8 Tapaktuan tetap direlokasi di tempat sekarang tak satu pun guru-gurunya dan termasuk kepala sekolah dan sejumlah oknum di jajaran Dinas Pendidikan Aceh Selatan yang mendukung supaya lembaga pendidikan ini tetap dibangun. Semuan menghambat dan menghambar-hambarkan!

Saya berjuang sendirian melobi Bupati Husin Yusuf waktu itu dan Kepala Dinas Drs H Zulkarnaini, M.Si dan H. Karman, B, BA termasuk sejumlah anggota DPRK setempat.

Kami (saya masih menjadi guru) di SD ini waktu itu sudah dua kali kecewa kepada kadis lama Drs H Syamsulijar, karena dua kali pula jatah dana pembangunan SD ini dialihkan ke kecamatan lain (Trumon dan Samadua).

Karena Syamsulijar waktu itu seperti berat hati sekolah ini direlokasi, maunya dihapus saja. Guru dan seluruh muridnya dipindahkan saja ke sekolah lain.

Tapi saya dengan kepala sekolah waktu itu, Bakhtiar, S.Pd (almarhum) tetap bertahan dan bersikeras lembaga pendidikan ini tetap direlokasi ke tempat lain yang masih berdekatan dengan sekolah asal. Waktu itu saya mengambil inisiatif agar murid-murid kami pindahkan menumpang belajar di bekas kantor lurah Tepi Air, Tapaktuan saat kepseknya berganti dengan Asnawiah.

Kepala Sekolahnya, Asnawiah menurut, karena murid-murid kami tak nyaman lagi belajar menumpang di lantai dua SD Negeri 9 Tapaktuan. Salah satu penyebanya ada oknum guru SD Negeri 9 yang menghina murid-murid kami dengan kata-kata yang menyakitkan. Maklum kami waktu itu belajar menumpang di SD Negeri 9 Tapaktuan – yang kepala sekolahnya Amran S.

Maka saya yang waktu itu tahun 2006 masih Imam Chik Gampong Tepi Air langsung melobi Kepala Desanya, Maizar (almarhum) supaya bekas kantor lurah yang memang tidak difungsikan saya minta untuk kami manfaatkan sebagai tempat proses belajar-mengajar.

Maizar spontan menerima. Kami pun pindah dan berlangsunglah proses belajar-mengajar dengan baik.

Agaknya Maizar mengetahui bahwa gedung asal kami kini diambil alih oleh Bupati Ir HT Machsalmina Ali, MM sebagai tempat anak-anak Akper Pemda belajar. Kami disuruh bubar dan pindah ke sekolah yang disukai. Tapi kami waktu itu tidak mau, tetap bertahan, karena berdasarkan hasil musyawarah dengan komisi C DPRK – sekolah kami tetap direlokasi.

Saya waktu itu cukup vokal baik dalam rapat maupun menulis di media massa untuk memperjuangkan gedung sekolah kami yang sudah diruntuh tetap mendapat relokasi. Dasar inilah saya bersikukuh bertahan dengan segala resiko yang meneror saya. Tapi saya tidak takut. Apalagi copy sertifikat sekolah ini hingga sekarang masih ada di tangan saya.

Yang tidak enaknya, setelah penggantian kepala desa dari Maizar ke Erwin Ariadi kami sudah dikenakan sewa Rp 2 juta setahun. Ya daripada tidak enak dengan perangkat desa hasil musyawarah tuha-tuha gampong kecil ini kami turuti. Tetapi ada lagi yang ironisnya, jika kami terlambat melunasi sewanya, kami diancam diusir.

Kami waktu itu benar-benar terlunta-lunta dan terkatung-katung seperti tak diperdulikan. Mau digusur dan dihilangkan saja status lembaga pendidikan ini tanpa direlokasi oleh pemda waktu itu, tetapi saya bertahan. Dan kekuatan saya satu lagi waktu itu adalah dukungan Wakil Bupati Harfana Hasan dan Ketua Komisi DPRK – Suadara Azmir, SU yang selalu memberi spirit agar sekolah ini tetap direlokasi.

Kerap sekali Asnawiah datang mengadu kepada saya atas tindakan sejumlah pemuda yang diketahui kadesnya untuk menagih uang sewa yang terlambat. Saya selaku guru di sekolah ini langsung menghadap Wakil Bupati Daska Aziz, S.Pd. MA minta bantu agar membayar sewa yang menunggak.

Oleh Wabup Daska langsung hari itu menelepon Kadis Pendidikan Zulkarnaini agar disediakan uang sejumlah Rp 2 juta untuk melunasi sewa kantor lurah guna mengantisipasi kami tidak diusir.

Kiranya tahun berikutnya kami kembali diancam usir oleh sejumlah warga yang tidak berempati dengan keberadaan kami di desa ini. Lagi-lagi kepala sekolah dan guru-guru SD 8 mengadu kepada saya.

Langsung saja saya mendatangi kepala desa Erwin Ariadi minta kesabaran agar kami jangan diusir. Waktu itu saya sempat melontarkan kata-kata pedas, bahwa kantor lurah yang ditempatinya sekarang sebagai rumah pribadi adalah juga hasil perjuangan saya bersama Lurah Maizar yang waktu itu Kepala BPM (Badan Pemberdayaan Masyarakat) adalah Alm H. Drs Baihaqi, MM – yang juga sahabat dekat saya yang menawarkan kepada saya untuk membangun kantor lurah baru – yang sekarang sedang ditempati oleh kepala desa Tepi Air sekaligus sebagai kantor.

Agaknya Erwin Ariadi memang tidak tahu bagaimana sepak terjang saya bersama Lurah Maizar semasa aktif sebagai Imam Chik memperjuangkan gampong ini tetap maju. Termasuk pembangunan gedung multi guna yang berlokasi di samping Mushalla Bustanul Huda Al-Rasyid Tepi Air, juga adalah hasil perjuangan saya.

Karena merasa tidak dihargai maka wajar saya bernada keras terhadap kades dan sejumlah oknum pemuda yang tak tahu ujung pangkal permasalahan. Seolah-olah saya mereka duga bersama kepala sekolah sangat beruntung dengan murid-murid kami tumpangkan di bekas kantor lurah itu. Padahal semata-mata saya berjuang demi dunia pendidikan, demi pendidikan generasi penerus.

Dan yang paling aneh dan mengherankan saya sekarang adalah bekas kantor lurah itu kini sudah ditempati oleh salah seorang warga namun saya tidak tahu apakah dia ini juga menyewa atau gratis?

Jika memang gratis, ya lucu kan? Nah inilah fenomena yang tak menyedapkan yang membuat jiwa saya tertanya-tanya keadilan semu sedang terjadi di sini.

Tetapi sudahlah, semoga mereka-mereka yang dulunya tidak mendukung keberadaan SD Negeri 8 ini berada di Gampong Tepi Air – lambat laun – sedikit demi sedikit sadar bahwa tindakan mereka yang lalu itu menjadi pelajaran berharga untuk jangan lagi suka melecehkan dunia pendidikan ke depan!

Banyak jika saya paparkan berbagai kelemahan perangkat desa ini tidak memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan sekolah ini. Pernah sejumlah papan dari hasil pembelahan anggota pekerja kontraktor yang membangun sekolah ini diambil paksa oleh warga atas izin kades, sehingga pekerja dan sang kontraktor waktu itu tak bisa berbuat banyak. Alasan mereka tanah di belakang sekolah itu bersama sejumlah pohon yang tumbuh diatasnya adalah milik gampong. Padahal saya tahu yang empunyanya adalah ahli waris M Darwin Isa. Lucu kan?

Namun saya tetap sabar dan menyerahkannya kepada Yang Di Atas.

Selanjutnya, halangan dan hambatan bukan saja berhenti di situ. Tetapi entah pengaruh siapa kepala sekolah bersama seluruh guru sekolah ini bersama-sama tiba-tiba membuat surat pernyataan bahwa mereka tidak setuju gedung sekolah ini dibangun di lokasi sekarang dengan alasan: longsor, tanah kuburan, banjir dan banyak hantu karena di tepi gunung. Cuma saya yang tidak menandatangani surat penolakan itu.

Saya langsung menghadap Bupati Husin Yusuf untuk mengklarifikasi surat penolakan tersebut. Saya sendirian melawan kepala sekolah bersama seluruh dewan guru yang lain. Waktu itu saya pikir saya pasti KO – dan kalah melawan suara terbanyak, rupanya tidak. Tuhan masih meridhai perjuangan saya. Bupati Husin Yusuf tetap mendukung saya agar gedung SD Negeri 8 Tapaktuan tetap dibangun dilokasi sekarang! Alhamdulillah!

“Bapak Darul Qutni Ch tenang saja, di Desa Bapak Tepi Air tetap kita bangun SD 8,” ujar bupati memberi semangat setelah saya beri alasan bahwa sejak Indonesia merdeka Desa Tepi Air dan Desa Hulu belum ada sekolah dasar.

Yang kurang enaknya lagi, baik kepala sekolah maupun guru-guru seperti tidak percaya bahwa SD 8 akan tetap dibangun, karena mereka beranggapan pemerintah tidak bodoh buang-buang duit ke tempat sekarang, selain di tepi gunung yang bersemak rawan longsor, juga di tepi sungai yang rawan banjir malah berdekatan pula dengan kuburan umum. Anak-anak bisa kerasukan setan tiap hari mengganggu proses belajar-mengajar. Ada hantu bergentayangan di situ. Haha….!

Malah ada warga gampong ini yang berani bersumpah bertaruh potong jari kelingking jika di lokasi sekarang terjadi pembangunan sekolah. “Masak pemerintah mau buang-buang dana milyaran ke sini, dan potong jari kelingking saya jika rumah sekolah jadi dibangun di tempat itu,” demikian ujar warga tersebut sangat yakin.

Wah ternyata sekarang gedung SD Negeri 8 Tapaktuan yang saat proses pembangunannya banyak mendapat hambatan dan rintangan ini terwujud juga. Sekali lagi syukur Alhamdulillah.

Tinggal lagi pagar depan sekolah itu bersama rumah guru/penjaga dan jembatan yang belum dibangun. “Insya Allah akan kita koordinasikan pembangunan jembatan kepada pihak Dinas PU. Dan pagar beserta rumah guru/pustaka akan kita anggarkan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Aceh Selatan, Yusafran, S.Pd kepada media ini beberapa bulan lalu di ruang kerjanya.

Apa lagi sekarang di belakang bangunan sekolah ini sedang giat-giatnya dibangun jalan lingkar sehingga keberadaan lembaga pendidikan ini tak terisolir lagi. Dua alat berat kini sedang menderu beroperasi memangkas dan meruntuhkan batu-batu besar untuk membangun badan jalan yang menghubungkan Desa Pasar – Tepi Air – Hulu dan Lhok Bingkuang. Di Gampong Lhok Bingkuang dewasa ini sedang giat pula dibangun sejumlah gedung pemerintah – di kawasan areal Kolam Area yang jalan lingkar ini berhubungan pula dengan bangunan SD Negeri 8 Tapaktuan.

Sementara Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra, SH – perrnah pula berjanji akan membangun tanggul Krueng Sirullah dan sekaligus pengerukan tanah sungai itu sehingga sungai yang melintasi di depan sekolah ini nantinya akan terlihat semakin indah dan elok dipandang mata.

Sebenarnya tak ada yang sulit bagi pemerintah jika semua elemen masyarakat memberikan dukungan penuh – tidak dihambat-hambat dengan alasan yang dicari-cari. Tapi itulah kadang pola pikir masyarakat memang sulit disatukan karena mengingat beda sudut pandang dan beda kepentingan.

Namun apapun ceritanya, selagi ada dana yang cukup dan sedang tingginya kemauan pemda membangun negeri ini maka diminta kepada kita semua elemen masyarakat hendaknya selalu berpikiran jauh ke depan, karena hidup ini bukan untuk kita sekarang saja, tetapi hidup yang semakin maju ini juga untuk kebutuhan anak cucu kita. Kitalah yang akan mewariskan apa yang kita bangun sekarang.

Sekarang marilah kita lupakan segala tindakan yang keliru selama ini terhadap kehadiran SD Negeri 8 Tapaktuan. Yang jelas di mata saya yang menjadi pahlawan mewujudkan SD Negeri 8 Tapaktuan adalah Gubernur Irwandi Yusuf, Bupati Husin Yusuf, Drs H Zulkarnaini, M.Si, H. Karman, Harfana Hasan dan Azmir SH. Mereka inilah yang mampu memandang jauh ke depan dalam menyikapi dunia pendidikan, khususnya SD Negeri 8 Tapaktuan.

Kesimpulan saya, tidak ada hantu bergentayangan di lokasi lembaga pendidikan itu sebagaimana yang diragukan sejumlah orang. Apalagi saya menganjurkan agar tiap hari Jumat, guru bersama seluruh murid rutin membaca surat Yasin. Hantu itu hanya ada dalam tubuh orang-orang yang dangkal berpikir serta orang-orang yang masih melekat penyakit hati, yakni iri dan dengki!

Betapa tidak, dulu banyak orang menyangka dengan ambisinya saya memperjuangkan relokasi sekolah ini – seolah-olah saya ambisi pula menjadi kepala sekolah. Makanya ada penolakan dan hambatan untuk menghalangi perjuangan saya ini. Eh…tahu-tahu begitu gedung sekolah ini dalam proses pembangunannya berjalan, saya langsung diusulkan Kadis Drs H Zulakrnaini, M.Si kepada Bupati Husin Yusuf untuk menjadi pengawas. Sekali lagi Alhamdulillah.

Artinya Allah langsung menjawab keikhlasan saya melalui pejabat yang bermata hati jernih melihat sepak terjang saya dalam berjuang. Bravo SD Negeri 8 Tapaktuan! Moga mutunya terus meningkat. Karena sekarang di Kota Tapaktuan – sejak Indonesia merdeka semua desanya masing-masing sudah memiliki gedung sekolah dasar, setelah SD Negeri 8 Tapaktuan dibangun pada tahun 2011 dan sudah berfungsi. Hidup lembaga pendidikanku.

Komentar










Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*