Susi: Pak Pesan Kopi Pahit, Biar Enak




Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersalaman dengan kerabat dan warga saat pulang ke kampungnya di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu (1/11/2014). Metro TV
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersalaman dengan kerabat dan warga saat pulang ke kampungnya di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu (1/11/2014). Metro TV
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersalaman dengan kerabat dan warga saat pulang ke kampungnya di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu (1/11/2014). Metro TV

Pangandaran – Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Timur, Pangandaran, Jawa Barat, Sabtu (1/11/2014), ramai bukan kepalang. Gara-garanya, apalagi kalau bukan kedatangan putri daerah yang kini Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Nelayan dan warga biasa berebut untuk bersalaman dan berpelukan dengan Susi Pudjiastuti. Sesekali mereka meminta berfoto bersama. Susi selalu meladeni permintaan mereka. Tak ayal, perempuan 50 tahun itu kelelahan.

Susi lantas beristirahat di salah satu warung tepi pantai. Dia memesan kopi hitam dan air putih. “Pak pesan kopi hitam, kopinya jangan pakai gula, pahit saja biar enak,” kata Menteri kepada pemilik warung.

Susi banyak mengobrol dengan nelayan. Dia menerangkan dengan detail perkara jaring nelayan. Ibu tiga anak itu juga meminta nelayan tidak sembarangan menggunakan alat penangkapan dan mengambil biota laut.

“Untuk saat ini jaring yang digunakan sangat kecil dan seharusnya berukuran dua inci, supaya mata ikan kecil keluar dan yang besarnya bisa tertangkap,” kata Susi berbincang kepada para nelayan.

“Sekarang, jaringna leutik ngan sainci, anu leutikna beunang jeung endogna. Kuduna anu gede hungkul nu dialana. Mun jaringna leutik, endogna dicokot, ayeuna oge kan arareuweuh. Aya lauk layur leutik,” ujar Susi dalam bahasa Sunda.

Jika dialihkan ke bahasa Indonesia, setidaknya seperti ini: jaring yang kecil membuat ikan kecil pun tertangkap bahkan hingga telurnya. Seharusnya ikan besar saja yang ditangkap. Akibat penangkapan telur, populasi ikan kian menyusut. Kini, hanya ada ikan layur yang kecil-kecil.

Obrolan akrab bersama nelayan dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan saat pulang ke kampung halamannya itu. Susi menyempatkan diri pulang ke kampung karena hari ini libur dari aktivitas di Kantor KKP.

Pada kesempatan itu, dia juga meminta Pemerintah Kabupaten Pangandaran dan DPRD segera membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk pembangunan dermaga. Susi berangan-angan dermaga itu bisa digunakan tahun 2015 agar tempat pelalangan ikan (TPI) kian semarak.

“Kalau Perdanya sudah keluar, saya perintahkan tim dari Jakarta untuk turun ke sini. Penyelesaian tergantung dewan yang membuat,” ujar Susi.

Namun, Susi mengingatkan agar perda yang dibuat nantinya tidak berdampak pada kerusakan lingkungan. “Hutan bakau jangan ditebang,” kata dia.

Salah satu nelayan setempat, Ipit, 45, mengaku kalau Susi merupakan kebanggaan nelayan Pangandaran. Sejak dulu, kata dia, Susi rendah hati, tidak pernah sombong. Bahkan, putri mendiang Haji Karlan itu bak penolong para nelayan.

“Para nelayan tidak merasa dirugikan, karena selama menjadi bandar dia juga pernah mengajak jalan-jalan menggunakan kapal,” kata Ipit.

Hal senada dikatakan, Sutarsih, 60. Dia pun punya cerita pernah bersama Susi berebut ikan dari nelayan pada zaman dulu.

“Pendapatan nelayan semuanya berbeda-beda. Waktu dulu Bu Susi hanya mendapatkan ikan yang dijual di sini sebanyak 20 kilogram,” kata dia.

Kegembiraan warga menyambut Susi makin ramai. Bukan karena mengelu-elukan Susi, melainkan sorak nelayan yang ikannya terinjak-injak. “Jalannya ke sana pak, ikan kami terinjak-injak,” kata salah satu nelayan yang marah.(metrotvnews)

Komentar










Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*