Terlalu Cemas Bisa Memicu Stroke

Ilustrasi
Ilustrasi

Aceh Selatan News | Pittsburgh – Perasaan khawatir dan kecemasan yang Anda simpan dapat menyebabkan stroke, menurut studi baru. Studi teranyar peneliti Amerika Serikat ini adalah yang pertama mengkaji bagaimana kecemasan mempengaruhi risiko stroke.

Ternyata, orang-orang dengan tingkat kecemasan yang tinggi, sepertiga partisipan, berpeluang 33 persen lebih  besar mengalami stroke di kemudian hari, peneliti psikiatri dari University of Pittsburgh School of Medicine, AS, melaporkan dalam jurnal Stroke yang dirilis, Kamis (19/12).

“Setiap orang punya beberapa kecemasan sekarang dan nanti, jika berkembang dan kronis, itu dapat berefek pada jalannya pembuluh darah dalam beberapa tahun,” kata Maya Lambiase, penulis studi dan peneliti kesehatan perilaku.

Temuan ini cukup berarti di AS. Sebab, stroke adalah penyebab kematian keempat dan memuncaki penyebab cacat di Negeri Paman Sam. Hampir 800.000 warga AS terserang stroke setiap tahun dan 130.000 di antaranya meninggal dunia, menurut Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC). Pada waktu yang sama, hampir 20 persen orang dewasa Amerika dan seperempat anak dan remaja mengalami gangguan kecemasan, menurut National Institute of Mental Health.

Lambiase dan koleganya menelaah catatan kesehatan selama 22 tahun dari 6.000 lebih partisipan berusia 25 hingga 74 tahun dalam basis data federal, National Health and Nutrition Examination Survey pertama atau NHANES 1.

Sampel yang mewakili data nasional ini dipelajari melalui wawancara partisipan, hasil kesehatan, kuesioner, dan pemeriksaan darah dan para partisipan setuju untuk dipantau selama lebih dari dua dekade.

Mereka menjawab pertanyaan termasuk menggunakan alat untuk mengukur apakah seseoarng cemas atau tense, menurut General Well-Being Schedule atau GWB-A.

Pertanyaan yang diajukan antara lain, “Apakah Anda pernah cemas, khawatir, atau kecewa?” “Apakah Anda merasa tegang,  stres, atau tertekan?” “Apakah Anda pernah terganggu oleh kegugupan atau gangguan saraf?”

Sebagian besar pertanyaan diukur dengan skala 0 yang menunjukkan tingkat kecemasan tertinggi dan 5 menunjukkan tingkat terendah. Jadi, para peneliti membalikkan responsnya sehingga angka yang lebih tinggi berhubungan dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.Selama penelitian, hampir 7 persen pasien atau 419 orang mengalami stroke.

Ketika pada peneliti mencuatkkan gejala-gejala kecemasan dan menghubungkannya dengan risiko stroke, peneliti menemukan sesuatu yang mengejutkan. Untuk setiap penyimpangan standar yang meningkatkan kecemasan, 17 persen meningkatkan risiko stroke. Pada waktu berbarengan, orang-orang dengan tingkat kecemasan tinggi cenderung merokok dan tidak cukup olahraga, yang juga dapat melejitkan risiko stroke.

Analisis ini memberikan pemahaman yang berharga tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap stroke, kata Dr Shazam Hussain, kepala Stroke Center di Klinik Cleveland, AS, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Para peneliti telah mengetahui bahwa kecemasan berkontribusi terhadap penyakit jantung. Namun, hubungan kecemasan dengan stroke tidak jelas, kata dia. “Kita selalu melihat hal-hal ini di samping faktor-faktor risiko standar” kata Hussain.

Masalahnya, kata para pakar, kecemasan kronis dapat menyebabkan serangkaian reaksi-reaksi biokimia membanjiri tubuh dengan hormon stres kortisol dan mengaktifkan apa yang dikenal sebagai aksis  hypothalamic-pituitary-adrenal atau HPA. Itulah sistem umpan balik yang melibatkan hipotalamus, kelenjar pituitari, dan kelenjar adrenal, yang bekerja sama mengatur stres dan fungsi tubuh lainnya.

Bila aktivasi tersebut intens atau lama, dapat mengganggu sistem pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di otak, yang meningkatkan kemungkinan stroke .

Lambiase mengakui masih belum jelas apakah mengurangi kecemasan dapat menurunkan risiko stroke. Namun, itu adalah topik menarik untuk penelitian lebih lanjut.

Meski begitu, Hussain mengatakan temuan ini dapat mendorong orang-orang untuk mulai waspada terhadap kecemasan dan stres dalam hidup mereka dan menemukan cara-cara untuk menguranginya. “Anda tidak perlu menunggu hingga sakit dahulu,” ujar dia. (shnews)

Komentar