UTU Gelar Lokakarya Nasional Pala di Aceh Selatan

Aceh Selatan News | Tapaktuan – Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan menggelar Lokakarya Nasional Pala, berlangsung di Gedung Pertemuan Rumah Agam, jalan Nyak Adam Kamil Tapaktuan, Senin (20/11/2017).

Kegiatan lokakarya bertema “Penguatan Inovasi Industri Hulu dan Hilir Pala Aceh” tersebut dibuka oleh Bupati Aceh Selatan, HT Sama Indra, SH. Diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan seperti PNS, para Camat,  para Keuchik dan Mahasiswa.

Lokakarya menghadirkan pemateri  yaitu, Dudi Gunadi dari Direktorat Perlindungan Perkebunan Kementerian Perkebunan RI,  dan H. Suharyo Husen, BSc, SE, MBA, Tenaga Ahli Bidang Pangan dan Agribisnis pada KADIN Indonesia, serta  Profesor Loekas Soesanto dari Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto yang merupakan penemu obat hama pala.

Bupati Aceh Selatan, HT Sama Indra, SH dalam kata sambutannya mengatakan, kegiatan lokakarya ini merupakan suatu anugerah yang patut diapresiasi.  Namun, ia menyayangkan, bahwa sebenarnya peserta seminar ini umumnya insan – insan yang berhubungan dengan pala. Tetapi yang hadir  ternyata banyak pesertanya terdiri dari PNS dan Pejabat.

“Seharusnya yang ada disini ada pengusaha pala, pemilik ketel pala dan petani pala, tetapi saya tidak menyalahkan panitia, karena ini mungkin kesilapan kita semua,” ungkapnya.

Selain itu,  Bupati mengharapkan, dengan adanya Lokakarya Nasional Pala,  mudah – mudahan wangi aroma pala kembali tercium lagi di Aceh Selatan. Pala Aceh Selatan mulai dikenal oleh dunia luar sejak zaman dahulu. 

“Ketika kita mencium aroma pala, kita juga teringat  masa tempo dulu, dimana masuknya negara luar untuk mencari rempah – rempah termasuk pala di Aceh Selatan. Maka sudah saatnya Aceh Selatan ini menjadi pusat pala di Provinsi Aceh,” ujarnya.

Bupati Sama Indra juga menceritakan,  kejayaan harga pala di Aceh Selatan mulai naik berkisar Rp. 20.000 pada tahun 1997, ketika terjadinya krisis moneter di Indonesia. Maka saat itu juga, ekonomi penduduk Aceh Selatan yang berprofesi sebagai petani pala mulai meningkat.

“Namun, pada tahun  2001 tanaman  pala di Kabupaten Aceh Selatan mulai diserang hama dan mati.  Tanaman pala diserang penyakit jamur akar, penyakit layu,  penyakit kanker batang, penyakit busuk batang dan penyakit penggerek batang,” sebutnya. (Ran).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*