Warga Transmigrasi Sineubok Jaya Mengadu ke Dewan

IMG-20170527-WA001

IMG-20170516-WA015_editAceh Selatan News | Tapaktuan – Memprihatinkan, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan nasib warga Transmigrasi di Lebah Madu, Gampong Seunebok Jaya, Kecamatan Trumon yang saat ini harus menempati bekas gudang atau pondok-pondok yang berada dikebun.

Kondisi ini terjadi karena para warga transmigrasi yang mengikuti program transmigrasi oleh pemerintah tahun 1992 silam itu kehilangan rumah dan tanah yang sudah menjadi hak milik mereka.

Saat konflik sedang bergejolak di Aceh pada tahun 2001 dengan alasan keamanan pihak Transmigrasi Aceh mengembalikan mereka ke daerah asal masing-masing untuk sementara.

Sebanyak sekitar 180 KK warga saat itu harus eksudus meninggalkam desa, Korwil Transmigrasi Aceh saat itu, Ali Basyah meminta agar masyarakat yang mengungsi meninggalkan sertifikat hak milik rumah dan tanah kepada pihak Transmigrasi dan menyerahkan uang 1 juta rupiah per KK sebagai akomodasi transpotasi dan biaya dijalan menuju daerah masing-masing.

Seiring waktu bergulir rumah-rumah yang meraka tinggalkan mulai ditempati oleh masyarakat yang masuk ke Gampong itu dengan perjanjian saat itu hanya hak pakai namun pasca damai tahun 2005 para transmigrasi yang mulai kembali ke kawasan transmigrasi di Sineubok Jaya dan ingni menempati kembali rumah dan lahan mereka para penghuni yang menempati saat ini enggan melangkah kaki keluar dari rumah tersebut.

Alasanlah ini membuat sebanyak 6 orang warga transmigrasi Seunebok Jaya mendatangi gedung DPRK Aceh Selatan untuk beraudiensi, Selasa (16/5/2017). Kedatangan mereka disambut oleh anggota komisi D DPRK Aceh Selatan, Alja Yusnadi S.TP.

Adapun yang ikut dalam kesempatan tersebut Harbaini SE Keuchik priode 2000-2009, Sekdes Mujiono menjabat tahun 2000-2001, warga transmigrasi Marsudi, Amat S, Lili K dan S Rujamsi.

“Saat itu pihak transmigrasi mengungsikan kami dengan cara memulangkan ke daerah masing-masing dengan alasan keamanan saat konflik dan menyerahkan uang senilai 1 juta rupiah/KK dengan catatan sertifikat tanah dititipkan di Transmigrasi,” urai Mujiono.

Kawasan itu merupakan Transmigrasi UPT 5 yang kini menjadi Gampong Seunebok Jaya

“Saat ini para transmigrasi yang telah kembali ke Trumon harus tinggal di gudang atau pondok-pondok di kebun. Bahkan kami tidak boleh memetik kelapa yang kami tanam dengan tangan kami sendiri,” tambah Mujiono

Hingga kini sebanyak 27 KK termasuk anak-anak dan wanita harus menempati tempat tinggal darurat seperti gudang bekas atau pondok-pondok kebun.

“Saat ini sebanyak 27 KK sudah berada di Trumon, warga kembali secara bertahap ada yang tahun 2007 ada yang 2011 dan ada yang beberapa minggu terakhir,” ungkap Harbaini.

Sementara itu Alja Yusnadi S.TP kepada Aceh Selatan News mengatakan akan meneruskan persoalan tersebut kepada pimpinan DPRK.

“Kita sudah tampung dan akan kita teruskan kepada pimpinan, Persoalan ini harus harus diselesaikan oleh pemerintah,” ungkap Alja.

“Kita akan memanggil dinas transmigrasi untuk berdiskusi dan mencari jalan keluar permasalahan ini,” pungkas politisi PDI-Perjuangan.(Iy)

Komentar

IKLAN DPMG II